Haji Kecil merupakan sebutan lain untuk ibadah umroh. Hal ini mengingatkan saya dengan kejadian tahun lalu ketika mamah dan nenek saya menjalankan ibadah umroh. Terlihat begitu bahagianya merek bisa berkunjung ke tanah suci, khususnya nenek saya. Sesampainya di sana nenek saya menelepon dan berbicara pada saya memberi tahu beliau sudah berada di sana. “nenek seneng banget. Ka’bah kaya deket banget sama nenek”, ungkapnya semangat melalui sambungan telepon.
Namun sepulangnya dari umroh pada hari Selasa nenek saya mmulai mengalami penurunan kondisi kesehatan pada tubuhnya. Mungkin karena di sana beliau susah untuk makan dan tubuh yang memang sudah menua. Hingga pada akhirnya Jum’at pagi beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Saya sekeluarga justru merasa lebih tenang dan ikhlas dengan kepergian nenek tercinta walaupun awalnya kesedihan mengoyak hati kami.
Oh ya... menyinggung mengenai pembahasan Haji Keci dan figur seorang nenek, naaah... kalian sudah tahu belum bahwa akan hadir film drama religi Indonesia yang berjudul Haji Kecil? Film ini akan segera digarap oleh Fine In Production. Film yang disutradarai oleh Furqy tersebut melakukan proses pengambilan gambar di Bandung. Bahkan ia merencanakan untuk menyusul pula syuting hingga ke kota suci Mekah pada bulan Desember 2017 ini.
Sejumlah aktris dan aktor yang ikut terlibat dalam film Haji Kecil pun telah disiapkan, di antaranya Dimas Seto, Dhini Aminarti, Aty Cancer, Fauzi Baadila, Vitalia Shesa, Sandrina Mitchelle, Zidan, dan lainnya. Selaku eksekutif produser, Aom Juang Wibowo dan juga produser, Iskandar Yusuf Anwar yakin pihaknya sukses mengemas sebuah film yang tentunya bermuatan positif bagi masyarakat.
Kisah cerita dalam film Haji Kecil ini mengangkat perjuangan seorang cucu yang berusaha memberangkatkan neneknya ke kota suci Mekah. Usaha dan perjuangan sang cucu yang menghadapi beberapa rintangan membuat ceritanya flm tersebut semakin menarik untuk disimak. Pihak produksi film menyebut ceritanya sangat kental dengan keteladanan, kepedulian dan kecerdasan seorang anak.
Aty Cancer yang berperan sebagai nenek menyebutkan peranan sang cucu di filmnya itu bisa menjadi contoh keteladanan bagi masyarakat. Cucunya dalam film itu bernama Dudung. Walaupun masih anak-anak tapi dia punya tekad kuat untuk membiayai neneknya beribadah haji. Padahal keluarga Dudung adalah keluarga yang termasuk tidak berkelebihan.
Tak hanya itu, film Haji Kecil ini juga diperkuat dengan lagu soundtrack berjudul Saat Doa Diljabah, diciptakan oleh Fredy Ahmad di bawah label My Music. Direncanakan, film tersebut secara utuh sudah bisa disaksikan pada tahun depan. Produser Iskandar Yusuf menargetkan film Haji Kecil bisa ditayangkan pada bulan Juli 2018. Bukan hanya di jaringan bioskop Indonesia saja, namun juga serentak di Malaysia, Brunei, dan Hong Kong.
Kamis, 20 Juli 2017
Jumat, 26 Mei 2017
Bukan Cinta Malaikat, Film Drama Religi Percintaan Antar Dua Negara
Hallo blogger... sudah tahu belum kabarnya dunia
perfilman tanah air kita ini akan segera diramaikan dengan film berunsur religi
yang berjudul “Bukan Cinta Malaikat”. Film yang merupakan produksi dari Ganesha
Perkasa Films yang kaya akan pesan moril bertemakan Islamic Love Story itu,
diperankan bintang-bintang ternama Indonesia seperti Fachri Albar, Donita, Dewi
Irawan, Joshua Pandeleki, Iqbal Pakula, Edi Brokoli, Dewi Amanda dan
sebagainya.
Dalam filmnya kali ini Ganesa Perkasa Films juga melibatkan
artis papan atas yang berasal dari negeri Jiran Malaysia, seperti Nora Danish
dan Ashraf Muslim. Tidak hanya itu saja, ternyata film Bukan Cinta Malaikat merupakan
film pertama international production dari Ganesa Perkasa Films. Selain
memiliki kekuatan cerita dan pemain yang sudah tidak diragukan dalam dunia
perfilman, film “Bukan Cinta Malaikat” juga akan menyuguhkan para penontonnya
dengan gambar-gambar yang menarik, seperti landscape-landscape kota Makkah dan
Madinah yang begitu indah dan tentu belum pernah ditampilkan di film-film
Indonesia bernuansa Islam sebelumnya.
Film 'Bukan Cinta Malaikat' menceritakan tentang Reyhan
(Fachri Albar), seorang relawan Muslim Care. Ia berasal dari kota Bandung dan
sedang menjalankan tugasnya di wilayah konflik di Timur Tengah. Ketika sedang
berada di Madinah, Reyhan menolong seorang perempuan asal Malaysia bernama Dewi
(Nora Danish) yang sedang melakukan perjalanan umroh. Sejak pertemuan itu,
Reyhan yang begitu idealis dengan misi kemanusiannya dan belum pernah
menyatakan cinta pada perempuan secara tidak sengaja menaruh hati pada Dewi.
Reyhan pun akhirnya pergi ke Malaysia untuk menyatakan
cinta dan melamar Dewi. Akan tetapi, cinta Reyhan tak berjalan mulus. Dewi
telah memiliki kekasih bernama Adam (Ashraf Muslim). Sementara, di Bandung,
seorang teman kecil Reyhan bernama Aliyah (Donita), mengharapkan cinta pada
Reyhan. Dari situ konflik pun berkembang sedemikian rupa. Lalu bagaimana Reyhan dan Dewi menyelesaikan permasalahan
mereka? Ingin tahu kaan?
Film 'Bukan Cinta Malaikat' akan tayang secara serentak
di bioskop-bioskop Indonesia pada 13 Juli 2017. Tidak sampai di situ saja, film
ini juga akan tayang di Malaysia loh guys....
Jumat, 19 Mei 2017
Rafathar The Movie
Siapa yang tidak kenal Rafathar Malik Ahmad, buah hati dari pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini baru saja meluncurkan trailer filmnya yang berjudul RAFATHAR. Film Indonesia pertama yang menceritakan tentang seorang Rafathar, bayi ajaib yang memiliki kemampuan luar biasa. Jonny Gold bersama rekan kerjanya Popo Palupi adalah sepasang perampok profesional, kali ini mereka mendapatkan misi pekerjaan untuk menculik seorang bayi yang bernama Rafathar. Hal ini dikarenakan Rafathar adalah bayi yang diadopsi oleh keluarga kaya raya.
Namun,
sayangnya para penculik tidak mengetahui bahwa bayi yang mereka culik itu
mempunyai kekuatan super, kekuatan telekinetik yang mampu mengendalikan logam.
Kejadian-kejadian lucu terjadi dalam proses penculikan itu, hingga akhirnya
kehadiran RAFATHAR mempunyai arti tersendiri kepada Jonny dan Popo. Perlu
kalian ketahui, ternyata film RAFATHAR adalah hasil garapan Sineas Anggi Umbara
dan papah Rafathar itu sendiri loh, yaitu Raffi Ahmad.
Film RAFATHAR ini adalah salah satu film yang sangat ditunggu-tunggu oleh para penonton Indonesia di tahun 2017. Buktinya, film yang diproduksi oleh RNR dan
Umbara Brothers dengan genre komedi-aksi tersebut memiliki jumlah
viewers mencapai 526.000 viewers di Youtube dari akun official RNR Movies.
Waw!!!
Yuk kita intip bagaimana trailer dari film RAFATHAR
Tidak hanya itu, kedua
orangtua Rafathar yakni, Raffi Ahmad (Jhony Gold) dan Nagita Slavina (detektif
Julie) turut membintangi film ini. Ada pula Babe
Cabita (Popo Palupi), Agus Kuncoro (Kolonel Demon), Ence Bagus (Opsir Polisi),
Verdi Solaiman (Kolonel Baraka), Arie Untung (Bos Viktor/papahnya Rafathar) dan
Nur Faruza (Mamahnya Rafathar) yang tentunya ikut mengisi kelucuan dalam
perannya dalam film ini. Yaaa... ini sudah bisa dipastikan kalau filmnya
bakal seru dan lucu ditambah karakter dari Rafathar itu sendiri yang memang
menggemaskan.
Yang lebih
tak disangka-sangka, film yang akan tayang pada 10 Agustus 2017 ini dibuat menggunakan teknologi yang sudah banyak
digunakan produksi film Hollywood. Dan di film RAFATHAR inilah untuk pertama
kalinya diperkenalkan dan digunakan pada produksi film Indonesia. Motion
Capture adalah teknologi digital yang memproses rekaman gerakan dari sebuah
obyek atau manusia untuk kemudian diolah kedalam bentik 3D.
Dalam penggunaannya
itu sendiri dengan melalui kombinasi sensor kamera, LED maker dan software yang
canggih, yang didukung serta oleh proses yang disebut photogrametry untuk
penyempurnaan dalam visual bagian wajah. Teknologi ini menciptakan hasil gambar
digital yang akan merangkai berbagai adegan action pada film RAFATHAR, sehingga
hasilnya akan menjadi lebih sempurna ketika sudah dikombinasi dan diaplikasikan
ke dalam bentuk 3D.
Nah.... gimana??? Seru dan lucu kaaan!!! Huh.. jadi semakin tidak sabar untuk mengajak keluarga besar menyaksikan film RAFATHAR di bioskop nanti...
x
Senin, 01 Mei 2017
Kompak! Ibu dan Anak Menjadi Pengusaha Kue Bolu Sukses
Berawal dari tekad untuk
menambah pendapatan keluarga. Secara pribadi, Wilda Kholiilaa dan sang ibu
memang suka dengan bolu. Ditambah dengan latar pendidikan sang ibu dibidang
gizi dan dirinya dibidang Ekonomi. Ide membuka usaha toko kue itu muncul karena
mereka pernah mencoba berbagai rasa bolu, pasangan ibu dan anak ini merasa bolu
pisang dan bolu tape adalah varian bolu yang “beda” dengan yang lain. Walaupun
ada di tempat lain, tapi mereka hanya ingin beda untuk dilihat dari sisi rasa
yang home made.
Toko kue yang didiran oleh
sang ibu dengan dukungan penuh oleh keluarga besar ternyata sudah berdiri sejak
awal tahun 2005. Namun sempat berhenti dan kemudian lanjut kembali. Hingga toko
kue tersebut mulai terasa
perkembangannya semakin membaik di tahun 2011.
Ada tiga karyawan part
time, satu karyawan tetap, serta keluarga yang selalu standby di dalam toko. “toko kue ini dikelola
oleh keluarga. Ibu mengatur produksi. Ayah mengatur pembelanjaan bahan produksi
dan kemasan. Saya mengatur finishing, administrasi, pemasaran, dan
keuangan”, ucap Wilda.
Ada visi misi yang
dimiliki mereka dalam mendirikan dan menjalankan usaha membuka toko kue, yakni
tidak lain tidak bukan adalah ingin bermanfaat bagi orang lain. Latar belakang
pendidikan yang ingin mereka aplikasikan saat ini, serta menjadikan sunnah
bahwa berwirausaha adalah contoh dari tauladan kita Nabi Muhammad SAW. Mereka
juga memproduksi bolu dengan sistem hire karyawan dari ibu-ibu sekitar
rumah yang ingin bekerja part time. Hal itu cukup merepresentasikan.
“Kami ingin memproduksi
bolu rasa home made, enak, memiliki ciri khas tersendiri, dan harganya
terjangkau. Sehingga jika sudah merasakan sekali, konsumen tau ini produksi
BOLU UMMI”, tambahnya.
Dalam berwirausaha, pasti
ada suka dukanya. Duka yang pernah mereka alami adalah dalam hal bahan produksi
yang mereka dapatkan dalam keadaan kurang baik yang berakibat fatal pada hasil
bolu, sehingga mereka harus mencari supplier yang kualitasnya baik. Ada
juga dalam hal konsumen yang mengambil kesempatan untuk meminta harga murah,
karena kue yang mereka produksi masih home made dan belum memiliki PIRT
serta sertifikasi halal.
Kemudian, kelemahan dari
sistem made by order adalah konsumen yang kadang tidak jadi mengambil
bolu tanpa konfirmasi, namun ada pula konsumen yang sangat memaksa memesan bolu
walaupun pesanan yang kami terima sudah penuh. Di samping dari dukanya, namun
menurut mereka lebih banyak sukanya. Meski usaha yang mereka kelola ini
pasang-surut, tapi usaha bolu dibidang kuliner ini bisa dikatakan tidak ada
habisnya atau tidak ada berhentinya, karena sudah menjadi sebuah kebutuhan.
Target serta harapan Wilda
dan sang ibu awal untuk menambah pendapatan keluarga dan mengelola sendiri
keuangan usaha, memang sudah tercapai. Kemudian mereka juga senang karena bisa
membantu orang yang ingin melakukan kursus secara pribadi, terutama dalam hal
memproduksi kue.
Wanita kelahiran 20 Maret
1994 ini ngatakan bahwa kue bolunya dipasarkan dengan beraneka macam harga.
Untuk harga ia dan sang ibu memasarkan berdasarkan ukuran dan rasa. Dimulai
dari harga RP. 10.000 dan yang paling tinggi RP. 100.000. Ukuran tersebut
berdasarkan kegunaan bolu itu sendiri. Bisa menjadi souvenir dalam acara
keluarga dan kerabat, bisa menjadi buah tangan khas bogor, bisa juga menjadi
kue potongan kecil di prasmanan, serta bisa menjadi kue seserahan dan ulang
tahun.
“Bolu unggulan kami adalah
bolu bakar rasa pisang dan tape. Kemudian ada brownies original dan brownies
pisang, juga ada bolu pandan, bolu marmer, blackforest, dan bolu kukus”.
Usaha kue
bolu yang awalnya dipasarkan hanya dengan sistem dari mulut ke mulut selama
bertahun-tahun dan mulai berkembang di tahun 2011 memiliki omzet sekitar 10
sampai 20 juta. Sedangkan pendapatan atau keuntungan yang diterima sekitar 3
sampai 6 juta. Mereka juga membuka sistem reseller,
sehingga banyak pemesan yang membeli namun untuk dijual kembali.
Awal
tahun 2017 ini, Wilda dan sang ibu mulai memasarkan by online di media
sosial, dan menyediakan pesan antar menggunakan jasa logistik. “Reseller dan
konsumen terjauh by online ada yang di Jakarta dan Tangerang. Sementara
ada juga konsumen yang membawa bolu kami sampai ke Padang, Palembang, Lampung,
Makassar, dan lain lain”, tutupnya.
Senin, 03 April 2017
Kalau Bukan Kita yang Mulai, Siapa Lagi?
Bermula dari bermain teaterikal di
lapangan sempur kemudian berinisiatif untuk melakukan sebuah gerakan peduli
lingkungan yang bernama Cibinong Clean Action (CCA) dengan bimbingan dari
Sekolah Relawan.
Selly, Arya, Buyung, Deri, Idung, Devi
dan kawan-kawan dalam memepringati HPSN (Hari Peduli Sampah Nasional) melakukan
sebuah teaterikal tentang sampah yang kami tampilkan di depan Walikota Bogor
Bapak Bima Arya. Usai bermain teaterikal tersebut,
mereka berfikir mengenai apa yang harus dilakukan setelah ini? Jangan sampai
hanya menjadi sebuah teater tanpa aksi. Alhasil, Selly dan yang lainnya bertemu
dengan seorang pengiat sampah akrab dengan sebutan kang Agil dan Kang Gigin.
“Kami disambut hangat. Diberikan
arahan dan masukkan bagaimana cara membuat suatu perubahan. Tanpa fikir panjang
kami berdiksusi dalam sebuah grup yang pada akhirnya visi kami adalah
menggerakkan anak muda melakukan kebaikan”.
Tepatnya pada 28 Februari 2016 hari
pertama Selly dan teman-temannya melakukan aksi lingkungan dalam sebuah program
“Clean Action dengan nama Cibinong Clean Action”. Ditanggal tersebut pula,
Cibinong Clean Action (CCA) resmi terbentuk. Gerakan Pungut Sampah (GPS),
edukasi lingkungan dengan penyuluhan serta training-training pengelolaan sampah
dan turut membantu program pemerintah di bidang lingkungan.adalah kegiatan
dalam program ini yang dilakukan setiap hari minggu di Pemda Cibinong.
Tak sampai disitu, Sekolah Relawan
merupakkan tempat belajar yang senantiasa mendampingi, mengarahkan dan bergerak
bersama. Banyak hal yang diajarkan disana. Segala macam terkait pelaksanaan
kegiatan CCA pun didukung penuh oleh Sekolah Relawan berserta guru-guru yang
tak kalah hebatnya. Awal CCA berdiri hanya beranggotakan 5 orang, namun
saat ini anggota relawan CCA sudah mencapai 40 sampai 50 orang.
CCA sendiri mulanya dikelola oleh lima
anggota pertama yang kemudian dikembangkan dan memiliki struktur. Adapun visi
dan misi dari CCA. Visinya yakni, mengedukasi masyarakat dengan aksi nyata.
Sedangkan misinya ialah Gerakan Pungut Sampah (GPS), Penyuluhan pengolahan
sampah, pelatihan bank sampah. Bergabung dalam CCA tentu ada suka dan
duka. Selly sendiri pun merasakan hal itu. Ia menuturkan bahwa pengalaman yang
menyenangkan baginya ialah semakin banyak yang teredukasi dengan adanya aksi
GPS di Pemda Cibinong. Sedangkan pengalaman dukanya ialah dirinya pernah
dicibir oleh temannya karena memungut sampah.
Untuk saat ini harapan yang sudah
dicapai oleh komunitas CCA adalah CCA sudah bisa mengedukasi para karangtaruna
setempat sehingga warga setempat mulai sadar akan pentingnya kebersihan
lingkungan. Namun untuk harapan kedepannya adalah semoga CCA bisa bergandengan
dengan pemerintahan setempat untuk mengedukasi masyarkat dalam hal kebersihan. “Bumi sudah lelah menerima sampah dari
kalian, sumpah nggak nyampah itu nggak susah”, pesan singkat Selly untuk
masyarakat dengan mengakhiri perbincangannya.
Jumat, 10 Maret 2017
Senyum Kecil, Si Penjual Koran
Kecil, kurus, berkulit sawo
matang, iya itulah Ariz si penjual koran yang setiap harinya menjajakkan
korannya di simpang jalan Gumarau. Ketika matahari pulang ke pelupuk langit,
Ariz justru keluar dari istana mungilnya nan sederhana dan berperang dengan
dinginnya malam demi beberapa lembar uang yang akan ia tabungkan untuk masuk ke
Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bocah yang berkepala gundul itu memang masih
dua tahun lagi untuk dapat melanjutkan sekolahnya ke tinggat SMP, tetapi ia
sadar bahwa ia terlahir bukanlah dari keluarga yang berkecukupan, jadi ia
memutuskan untuk menjadi penjual koran untuk meringankan beban orangtuanya
dalam membiayai pendidikannya.
Ariz sudah empat tahun menggeluti
pekerjaannya ini. Tentunya sudah sangat biasa badan mungilnya terkena angin
malam yang meusuk sendi-sendi tulangnya. Tidak jarang koran yang ia jual
berterbangan karena hembusan angin dari kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang
di hadapannya. Harga koran yang ia jual pun tidak seberapa dengan waktu yang ia
telah korbankan hingga larut malam. Untuk seumuran Ariz, pada jam tersebut
harusnya diisi dengan belajar, bukan mencari nafkah.
Suatu hari Ariz bertemu dengan
salah satu kakak perempuan dari sebuah kota dan ia berprofesi sebagai reporter.
Kebetulan kakak tersebut sedang ditugaskan ke daerah dimana tempat itu tidak
jauh dari singgahsana si bocah kepala gundul tersebut. Ketika si kakak sedang
berjalan-jalan pada malam hari, pandangan pertama langsung tertuju kepada Ariz
yang sedang sibuk membereskan koran-korannya yang berterbangan. Kakak reporter
itu pun bergegas membantu Ariz karena memang tidak ada orang yang peduli untuk
membantunya. Padahal, banyak orang yang lewat namun hanya menoleh dan
memerhatikan Ariz yang sibuk berlari ke sana ke sini mengambil koran yang ia
jual berterbangan.
Kakak reporter tersebut
menghampiri dan kemudian bertanya pada Ariz, “hey... ini koranmu semua?”
kemudian Ariz menjawab, “oh ya, ini koranku kak” sambil tersenyum. Sambil ikut
membereskan koran, kakak reporter tersebut melanjutkan perbincangannya kepada
Ariz. Selama mereka berbincang, ada segerombolan mahasiswa yang ternyata sedang
mengadakan bakti sosial ke anak-anak jalanan. Para mahasiswa tersebut membawa
bungkusan makanan beserta minuman yang mungkin bagi Ariz, itu sangat mahal. Dan
ternyata, Ariz mendapatkan satu bungkusan makanan tersebut. Sangat terlihat
jelas Ariz sangat senang ketika memegang bungkusan makanan tersebut yang
kemudian dipangkunya.
Terdiam kakak reporter itu
memandang Ariz, kemudian dilanjutkan dengan bertanyanya kembali ia kepada Ariz,
“oh iya sampai lupa tanya nama. Nama kamu siapa?”, “Ariz, kak” jawab Ariz.
“kamu tidak takut menjual koran malam-malam, apakah kamu sudah makan” tanya
kakak reporter lagi. “kenapa harus takut? Aku datang ke sini dengan niat yang
baik kak hehehee... hmmm... aku belum kak” dengan sedikit tawa Ariz menjawab
pertanyaan tersebut. Kemudian, kakak reporter itu tiba-tiba terenyuh hatinya.
Iya ia terenyuh karena ketika ia menyuruh Ariz memakan makanan yang ada di
bungkusan itu, Ariz menjawab “enggak kak, ini buat ibu dan saudara-saudaraku.
Aku lima bersaudara kak” sambil menggenggam minuman yang didapatkan satu paket
dengan bungkusan makanan.
Di sisi lain, Ariz menjual koran
juga karena sang ayah yang telah meninggal. Yang bocah itu tahu hanyalah
menabung untuk sekolah dan membantu ibu
agar bisa menabahkan uang untuk makan esok. Sungguh seperti tidak ada beban
berat jika melihat Ariz yang selalu tersenyum dan memperlihatkan giginya ketika
ditanyakan sebuah pertanyaan. Selama 30 menit kakak reporter itu menemani Ariz
berjualan dengan sesekali melontarkan pertanyaan.
Namun, dari beberapa pertanyaan
yang paling menguras emosi adalah bahwa setiap Ariz akan pergi berjualan koran,
ia selalu mengaji sore terlebih dahulu dan kemudian diciumnya wajah Ariz oleh
sang ibu. Katanya ibu selalu mendoakan dirinya dan ada Allah yang menjagaku.
Sungguh hebat, anak sekecil itu sudah paham arti seseorang yang bisa bermanfaat
untuk orang banyak. Anak berumur sepuluh tahun itu sudah mengerti kalau doa ibu
akan selalu melindungi dirinya dimanapun ia berada. Karena sesungguhnya orang
baik akan selalu mendapatkan kebaikan dan begitu pula sebaliknya. Semua sudah
diatur oleh Allah SWT. Allah pula yang mendatangkan bencana bagi siapa saja
yang lupa pada-Nya dan tidak mencintainya. Maka, berbuat baiklah atas ridha
Allah bukan demi mendapat penilaian dari seseorang dan sungguh Allah Maha
Pelontar Bahaya bagi siapa pun.
Jumat, 30 Desember 2016
Eko Siswandanu; Prioritas Waktu Antara Amanah dengan Kewajiban
“Selain mengerjakan tugas akhir kuliah, saat ini saya juga aktif sebagai Wakil Ketua Badan Kepengurusan Relawan WikiDPR. Karena kami sedang mempersiapkan database rekam jejak kinerja wakil rakyat sebagai bekal masyarakat memilih pada pemilihan umum legislatif 2019”.
Eko Siswandanu, mahasiswa akhir jurusan Perbankan Syariah ini memang pada dasarnya sangat senang berdiskusi. Pengalaman pertamanya saat kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah dirinya menemukan sebuah lembaga kajian ekonomi Islam yang bernama Center for Islamic Economics Studies (C.O.I.N.S). Ketika mulai aktif mengikuti kajian di C.O.I.N.S, ia mengamati bahwa kakak-kakak di lembaga tersebut ternyata tidak hanya pandai dalam bidang keilmuan saja, namun juga dalam bidang keorganisasian dan kepemimpinan. Bermula dari sanalah, Eko merasa tertarik untuk mendalami seni berorganisasi.
Pada tahun pertama kuliah, pria asal Bekasi ini telah bergabung dengan organisasi C.O.I.N.S dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di tahun kedua, di bawah kepemimpinan Sdr. Syamsul Ma’arif, Presiden Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Muamalat, saat itu Eko diajak untuk menjadi salah satu pengurus dalam kabinetnya.
“Saya diamanahkan sebagai Ketua Departemen Informasi HMPS Muamalat. Pada saat itu program kerja utama saya adalah membuat Buletin Cerdas dan mengelola media sosial organisasi, alhamdulillah terlaksana”, ujar Eko.
Setelah satu tahun menjalankan amanah sebagai pengurus HMPS Muamalat, Eko kembali diberikan amanah yang lebih tinggi, yakni menjadi Sekretaris di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), di bawah kepemimpinan Sdr. Ahmad Zakial Fajri Nas. Pada saat masa jabatan Eko mengaku bahwa ia juga diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Konferensi Mahasiswa Syariah tingkat nasional di UIN Alauddin Makassar. Sungguh dari sini ia mengungkapkan bawasannya dirinya merasa sangat beruntung karena diberikan banyak ruang untuk berproses bersama kawan-kawan yang lain.
Ternyata, tidak hanya iseng semata Eko mengikuti kegiatan keorganisasian. Namun dirinya juga memiliki alasan tersendiri dalam dirinya, “Saya berorganisasi untuk mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada diri saya. Dengan berorganisasi saya belajar memahami diri sendiri dan orang lain, belajar memimpin dan dipimpin. Selain itu, berorganisasi juga bisa menambah teman dan memperluas pergaulan”, kata Eko.
Mahasiswa yang memiliki mata sipit ini, ternyata pernah menjabat sebagai ketua senat di kampusnya. Eko menceritakan bahwa dirinya bisa menjabat sebagai ketua senat yakni dimulai dengan berproses dari tingkat jurusan atau program studi di HMPS Muamalat lalu ke tingkat fakultas melalui BEM FSH. Selain itu dikarenakan dirinya yang memang terbilang aktif menempa diri di lembaga kajian dan perkaderan, yaitu C.O.I.N.S dan HMI. Melalui itu semualah ia hendak maju ke tingkat yang lebih tinggi di universitas, yaitu mencalonkan sebagai Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “alhamdulillah semesta meridhoi”, ucapnya.
Baginya, mahasiswa dan pemuda harus memiliki idealisme dan nasionalisme yang kuat. hal ini dikarenakan banyak persoalan di negeri ini yang tidak akan selesai jika kita hanya berpangku tangan tanpa mau ikut terlibat menyelesaikan persoalan tersebut. Oleh karena itu ia selalu menanamkan visi aktif dan kreatif dalam merespons setiap persoalan yang ada, baik itu di ruang lingkup keluarga, kampus, maupun nasional dan internasional.
Setelah dirinya terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia pun ikut dalam Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI). Eko bercerita bahwa Pada Musyawarah Nasional di Jakarta, dirinya mendapat amanah sebagai Koordinator Wilayah Jabodetabek. Selain itu, untuk saat ini ia aktif dalam organisasi kerelawanan WikiDPR yang bertugas merekam jejak anggota DPR RI agar masyarakat bisa menilai kinerja mereka secara komprehensif.
Banyak hal menyenangkan baginya dalam mengikuti sebuah organisasi, yang paling ia suka adalah ia pernah diberikan kesempatan jalan-jalan gratis ke Makassar dan Bali. Selain pengalaman sukanya, namun ternyata ada pula pengalaman tidak menyenangkan yang Eko rasakan, “hal yang tidak saya suka adalah ketika organisasi sudah bernuansa politik praktis dan anggotanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya masing-masing. Contohnya adalah ketika banyak saya jumpai kecurangan dan kekerasan dalam proses pemilihan umum mahasiswa, menurut saya ini sangat tidak pantas untuk seorang mahasiswa”.
Disinggung mengenai kesebukannya yang padat, Eko mengaku bahwa pada awalnya memang dirinya agak sulit untuk mengatur waktu dengan banyaknya aktivitas organisasi, namun ia belajar menerapkan skala prioritas dan first in first serve. “Skala prioritas dinilai dari urgensi kegiatan dan dampak yang timbul jika saya memutuskan terlibat atau tidak terlibat, sedangkan untuk yang skala prioritasnya sama saya menggunakan first in first serve yaitu saya mengikuti apa yang telah terjadwal terlebih dahulu”, katanya.
Merasa beruntung walaupun dengan kegiatannya yang padat, untuk dirinya pribadi, Eko mengungkapkan keuntungan yang sangat besar karena keterlibatannya dalam berorganisasi, yakni menambah pengetahuan dan kebijaksanaan saya dalam menilai suatu kondisi atau keadaan dalam rangka pengambilan keputusan. Selain itu jejaring pertemanan yang luas dapat menjadi modal sosial dalam hal membangun integritas diri.
Untuk masalah waktu bersama keluarga, tentu dengan melihat kegiatannya tersebut, Eko akan sulit membaginya dengan keluarga. “Waktu untuk keluarga merupakan prioritas yang utama. Tanpa dukungan keluarga pastinya saya tidak dapat beraktivitas seperti ini di organisasi. Bagi saya, waktu minimal untuk keluarga adalah seminggu sekali”, ungkapnya.
Semua orang tentu memiliki tujuan hidup masing-masing. Eko mengaku bahwa pada dasarnya ia bukanlah orang yang fokus pada satu tujuan hidup, menurutnya kita semua harus memberikan upaya yang maksimal terhadap apa yang menjadi tanggung jawab kita. Bahkan kita harus memberikan lebih dari apa yang orang lain harapkan terhadap kita. Dengan begitu setiap hari akan ada kesempatan-kesempatan baru yang lebih hebat lagi untuk kita.
Eko Siswandanu, mahasiswa akhir jurusan Perbankan Syariah ini memang pada dasarnya sangat senang berdiskusi. Pengalaman pertamanya saat kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah dirinya menemukan sebuah lembaga kajian ekonomi Islam yang bernama Center for Islamic Economics Studies (C.O.I.N.S). Ketika mulai aktif mengikuti kajian di C.O.I.N.S, ia mengamati bahwa kakak-kakak di lembaga tersebut ternyata tidak hanya pandai dalam bidang keilmuan saja, namun juga dalam bidang keorganisasian dan kepemimpinan. Bermula dari sanalah, Eko merasa tertarik untuk mendalami seni berorganisasi.
Pada tahun pertama kuliah, pria asal Bekasi ini telah bergabung dengan organisasi C.O.I.N.S dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di tahun kedua, di bawah kepemimpinan Sdr. Syamsul Ma’arif, Presiden Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Muamalat, saat itu Eko diajak untuk menjadi salah satu pengurus dalam kabinetnya.
“Saya diamanahkan sebagai Ketua Departemen Informasi HMPS Muamalat. Pada saat itu program kerja utama saya adalah membuat Buletin Cerdas dan mengelola media sosial organisasi, alhamdulillah terlaksana”, ujar Eko.
Setelah satu tahun menjalankan amanah sebagai pengurus HMPS Muamalat, Eko kembali diberikan amanah yang lebih tinggi, yakni menjadi Sekretaris di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), di bawah kepemimpinan Sdr. Ahmad Zakial Fajri Nas. Pada saat masa jabatan Eko mengaku bahwa ia juga diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Konferensi Mahasiswa Syariah tingkat nasional di UIN Alauddin Makassar. Sungguh dari sini ia mengungkapkan bawasannya dirinya merasa sangat beruntung karena diberikan banyak ruang untuk berproses bersama kawan-kawan yang lain.
Ternyata, tidak hanya iseng semata Eko mengikuti kegiatan keorganisasian. Namun dirinya juga memiliki alasan tersendiri dalam dirinya, “Saya berorganisasi untuk mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada diri saya. Dengan berorganisasi saya belajar memahami diri sendiri dan orang lain, belajar memimpin dan dipimpin. Selain itu, berorganisasi juga bisa menambah teman dan memperluas pergaulan”, kata Eko.
Mahasiswa yang memiliki mata sipit ini, ternyata pernah menjabat sebagai ketua senat di kampusnya. Eko menceritakan bahwa dirinya bisa menjabat sebagai ketua senat yakni dimulai dengan berproses dari tingkat jurusan atau program studi di HMPS Muamalat lalu ke tingkat fakultas melalui BEM FSH. Selain itu dikarenakan dirinya yang memang terbilang aktif menempa diri di lembaga kajian dan perkaderan, yaitu C.O.I.N.S dan HMI. Melalui itu semualah ia hendak maju ke tingkat yang lebih tinggi di universitas, yaitu mencalonkan sebagai Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “alhamdulillah semesta meridhoi”, ucapnya.
Baginya, mahasiswa dan pemuda harus memiliki idealisme dan nasionalisme yang kuat. hal ini dikarenakan banyak persoalan di negeri ini yang tidak akan selesai jika kita hanya berpangku tangan tanpa mau ikut terlibat menyelesaikan persoalan tersebut. Oleh karena itu ia selalu menanamkan visi aktif dan kreatif dalam merespons setiap persoalan yang ada, baik itu di ruang lingkup keluarga, kampus, maupun nasional dan internasional.
Setelah dirinya terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia pun ikut dalam Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI). Eko bercerita bahwa Pada Musyawarah Nasional di Jakarta, dirinya mendapat amanah sebagai Koordinator Wilayah Jabodetabek. Selain itu, untuk saat ini ia aktif dalam organisasi kerelawanan WikiDPR yang bertugas merekam jejak anggota DPR RI agar masyarakat bisa menilai kinerja mereka secara komprehensif.
Banyak hal menyenangkan baginya dalam mengikuti sebuah organisasi, yang paling ia suka adalah ia pernah diberikan kesempatan jalan-jalan gratis ke Makassar dan Bali. Selain pengalaman sukanya, namun ternyata ada pula pengalaman tidak menyenangkan yang Eko rasakan, “hal yang tidak saya suka adalah ketika organisasi sudah bernuansa politik praktis dan anggotanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya masing-masing. Contohnya adalah ketika banyak saya jumpai kecurangan dan kekerasan dalam proses pemilihan umum mahasiswa, menurut saya ini sangat tidak pantas untuk seorang mahasiswa”.
Disinggung mengenai kesebukannya yang padat, Eko mengaku bahwa pada awalnya memang dirinya agak sulit untuk mengatur waktu dengan banyaknya aktivitas organisasi, namun ia belajar menerapkan skala prioritas dan first in first serve. “Skala prioritas dinilai dari urgensi kegiatan dan dampak yang timbul jika saya memutuskan terlibat atau tidak terlibat, sedangkan untuk yang skala prioritasnya sama saya menggunakan first in first serve yaitu saya mengikuti apa yang telah terjadwal terlebih dahulu”, katanya.
Merasa beruntung walaupun dengan kegiatannya yang padat, untuk dirinya pribadi, Eko mengungkapkan keuntungan yang sangat besar karena keterlibatannya dalam berorganisasi, yakni menambah pengetahuan dan kebijaksanaan saya dalam menilai suatu kondisi atau keadaan dalam rangka pengambilan keputusan. Selain itu jejaring pertemanan yang luas dapat menjadi modal sosial dalam hal membangun integritas diri.
Untuk masalah waktu bersama keluarga, tentu dengan melihat kegiatannya tersebut, Eko akan sulit membaginya dengan keluarga. “Waktu untuk keluarga merupakan prioritas yang utama. Tanpa dukungan keluarga pastinya saya tidak dapat beraktivitas seperti ini di organisasi. Bagi saya, waktu minimal untuk keluarga adalah seminggu sekali”, ungkapnya.
Semua orang tentu memiliki tujuan hidup masing-masing. Eko mengaku bahwa pada dasarnya ia bukanlah orang yang fokus pada satu tujuan hidup, menurutnya kita semua harus memberikan upaya yang maksimal terhadap apa yang menjadi tanggung jawab kita. Bahkan kita harus memberikan lebih dari apa yang orang lain harapkan terhadap kita. Dengan begitu setiap hari akan ada kesempatan-kesempatan baru yang lebih hebat lagi untuk kita.
Langganan:
Postingan (Atom)








