Aku merindukannya. Teramat rindu tawanya, teramat rindu candanya. Dia selalu menari indah dalam ingatanku. Dia selalu hadir ditidur lelapku. Dia orang yang membunuh semua waktuku. Hanya untuk sekedar memikirkannya, mengkhawatirkannya dan membayangkan senyumnya

Senin, 01 Mei 2017

Kompak! Ibu dan Anak Menjadi Pengusaha Kue Bolu Sukses

Berawal dari tekad untuk menambah pendapatan keluarga. Secara pribadi, Wilda Kholiilaa dan sang ibu memang suka dengan bolu. Ditambah dengan latar pendidikan sang ibu dibidang gizi dan dirinya dibidang Ekonomi. Ide membuka usaha toko kue itu muncul karena mereka pernah mencoba berbagai rasa bolu, pasangan ibu dan anak ini merasa bolu pisang dan bolu tape adalah varian bolu yang “beda” dengan yang lain. Walaupun ada di tempat lain, tapi mereka hanya ingin beda untuk dilihat dari sisi rasa yang home made.

Toko kue yang didiran oleh sang ibu dengan dukungan penuh oleh keluarga besar ternyata sudah berdiri sejak awal tahun 2005. Namun sempat berhenti dan kemudian lanjut kembali. Hingga toko kue tersebut  mulai terasa perkembangannya semakin membaik di tahun 2011.

Ada tiga karyawan part time, satu karyawan tetap, serta keluarga yang selalu standby di dalam toko. “toko kue ini dikelola oleh keluarga. Ibu mengatur produksi. Ayah mengatur pembelanjaan bahan produksi dan kemasan. Saya mengatur finishing, administrasi, pemasaran, dan keuangan”, ucap Wilda.

Ada visi misi yang dimiliki mereka dalam mendirikan dan menjalankan usaha membuka toko kue, yakni tidak lain tidak bukan adalah ingin bermanfaat bagi orang lain. Latar belakang pendidikan yang ingin mereka aplikasikan saat ini, serta menjadikan sunnah bahwa berwirausaha adalah contoh dari tauladan kita Nabi Muhammad SAW. Mereka juga memproduksi bolu dengan sistem hire karyawan dari ibu-ibu sekitar rumah yang ingin bekerja part time. Hal itu cukup merepresentasikan.

“Kami ingin memproduksi bolu rasa home made, enak, memiliki ciri khas tersendiri, dan harganya terjangkau. Sehingga jika sudah merasakan sekali, konsumen tau ini produksi BOLU UMMI”, tambahnya.

Dalam berwirausaha, pasti ada suka dukanya. Duka yang pernah mereka alami adalah dalam hal bahan produksi yang mereka dapatkan dalam keadaan kurang baik yang berakibat fatal pada hasil bolu, sehingga mereka harus mencari supplier yang kualitasnya baik. Ada juga dalam hal konsumen yang mengambil kesempatan untuk meminta harga murah, karena kue yang mereka produksi masih home made dan belum memiliki PIRT serta sertifikasi halal.

Kemudian, kelemahan dari sistem made by order adalah konsumen yang kadang tidak jadi mengambil bolu tanpa konfirmasi, namun ada pula konsumen yang sangat memaksa memesan bolu walaupun pesanan yang kami terima sudah penuh. Di samping dari dukanya, namun menurut mereka lebih banyak sukanya. Meski usaha yang mereka kelola ini pasang-surut, tapi usaha bolu dibidang kuliner ini bisa dikatakan tidak ada habisnya atau tidak ada berhentinya, karena sudah menjadi sebuah kebutuhan.

Target serta harapan Wilda dan sang ibu awal untuk menambah pendapatan keluarga dan mengelola sendiri keuangan usaha, memang sudah tercapai. Kemudian mereka juga senang karena bisa membantu orang yang ingin melakukan kursus secara pribadi, terutama dalam hal memproduksi kue.

Wanita kelahiran 20 Maret 1994 ini ngatakan bahwa kue bolunya dipasarkan dengan beraneka macam harga. Untuk harga ia dan sang ibu memasarkan berdasarkan ukuran dan rasa. Dimulai dari harga RP. 10.000 dan yang paling tinggi RP. 100.000. Ukuran tersebut berdasarkan kegunaan bolu itu sendiri. Bisa menjadi souvenir dalam acara keluarga dan kerabat, bisa menjadi buah tangan khas bogor, bisa juga menjadi kue potongan kecil di prasmanan, serta bisa menjadi kue seserahan dan ulang tahun.

“Bolu unggulan kami adalah bolu bakar rasa pisang dan tape. Kemudian ada brownies original dan brownies pisang, juga ada bolu pandan, bolu marmer, blackforest, dan bolu kukus”.

Usaha kue bolu yang awalnya dipasarkan hanya dengan sistem dari mulut ke mulut selama bertahun-tahun dan mulai berkembang di tahun 2011 memiliki omzet sekitar 10 sampai 20 juta. Sedangkan pendapatan atau keuntungan yang diterima sekitar 3 sampai 6 juta. Mereka juga membuka sistem reseller, sehingga banyak pemesan yang membeli namun untuk dijual kembali.

Awal tahun 2017 ini, Wilda dan sang ibu mulai memasarkan by online di media sosial, dan menyediakan pesan antar menggunakan jasa logistik. “Reseller dan konsumen terjauh by online ada yang di Jakarta dan Tangerang. Sementara ada juga konsumen yang membawa bolu kami sampai ke Padang, Palembang, Lampung, Makassar, dan lain lain”, tutupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar